Maloklusi

Posted in Orthodonsia on Februari 7, 2009 by Kirain

oklusi sendiri adalah keadaan di mana gigi rahang atas dan rahang bawah terletak disaat mulut tertutup, oklusi normal adalah hubungan dari gigi dan lengkung gigi geligi yang memberikan fungsi lokal, dan maloklusi itu sendiri adalah suatu keadaan yang menyimpang

Maloklusi terdiri dari 3 yaitu:

  • Dental displasia adalah suatu keadaan di mana relasi antara gigi geligi yang tidak harmonis, contoh : Gigi dalam keadaan salah letak gigi
  • Skleto Dento Displasi: adalah di samping hubungannya antara gigi geligi yang tidak harmonis, juga relasi RA terhadap RB dan relasi rahang dengan cranium (baik RA dan RB) tidak normal terhadap tulang kranium.
  • Skeletal displasia : adalah kemungkinan relasi gigi geligi normal tapi hubungan RA dan RB tidak normal/ hubungan RA, RB dengan cranium.

LETAK SALAH DARI GIGI

Posted in Uncategorized on Februari 7, 2009 by Kirain

KELAINAN LETAK SALAH DARI GIGI

Versi: adalah kelainan letak salah di mana gigi berputar melalui as horizontal gigi

Rotasi: perputaran gigi melalui as vertikal yang berada tepat pada as gigi, yang berada pada tepi marginal mesio distal, lokasi eksentris.

Gressi:perpindahan gigi sejajar dengan as gigi Supra posisi: dimana gii bergerak ke oklusal melebihi garis oklusi

Infra Posisi: dimana gigi bergerak ke oklusal di bawah garis oklusi. Pervecs: letak gigi horizontal atau impaktif.

Recsostem: dimana gigi C berada di luar lengkung rahang gigi bagian labial.

Endosteem: dimana gig C berada di dalam lengkung gigi bagian labial

Retreaksi Eksentris: gigi yang berputar melalui as vertikal yang terletak melalui as vertikal yang terletak di tepi marginal

Lokal Komplikasi anestesi lokal

Posted in Oral Surgery on Maret 3, 2008 by Kirain

Lokal Komplikasi:

Patah Jarum

Penyebab: gerakan tiba-tiba jarum gauge (ukuran) kecil, jarum yang dibengkokan .

Pencegahan: kenalilah anatomi daerah yang akan dianestesi, gunakan jarum gauge besar, jangan gunakan jarum sapai porosnya, pake jarum sekali saja, jangan mengubah arah jarum, beritahu pasien sebelum penyuntikan.

Penaganan: tenang, jangan panic, pasien jangan bergerak, mulut harus tetap terbuka jika pragmennya kelihtan, angkat dengan hemostat keal, jika tidak terlihat diinsisi, beritahu pasien, kirim ke ahli bedah mulut.

Rasa Terbakar Pada Injeksi.

Sebab: pH larutan melampaui batas, injeksi larutan cepat, kontaminasi larutan catridge dengan larutan sterilisasi, larutan anestesi yang hangat.

Masalah: bisa terjadi iritasi jaringan, jaringan menjadi rusak.

Pencegahan: gunakan anestetik lokal yang pH kira-kira 5, injeksi larutan perlahan-lahan (iml/menit), cartridge disimpan pada suhu kamar, lokal anestetik tetap steril.

Rasa Sakit pada Injeksi

Sebab: teknik injeksi salah, jarum tumpul, deposit larutan cepat, jarum mengenai periosteum.

Pencegahan: penyuntikan yang benar, pakai jarum yang tajam, pakai larutan anestesi yang steril, injeksikan jarum perlahan-lahan, hindari penyuntikan yang berulang-ulang.

Penanganan: tidak perlu penangana khusus.

Parastesi (kelainan saraf akibat anestesi): tidak terasa.

Sebab: trauma (iritasi mekanis pada nervus akibat injeksi jarum/ larutan anestetik sendiri.)

Masalah: dapat terjadi selamanya, luka jaringan.

Pencegahan: injeksi yang tepat, penggunaan cartridge yang baik.

Penanganan: tenangkan pasien, pemeriksaan pasien (lamanya parastesia), pemeriksaan ulang sampai gejala hilang, konsul keahli bedah, mulut atau neurologi.

 

Trismus (gangguan membuka mulut).

Sebab: trauma pada otot untuk membuka mulut, iritasi, larutan, pendarahan, infeksi rendah pada otot.

Masalah: rasa sakit, hemobility (kemampuan mandibula untuk bergerak menurun).

Pencegahan: pakai jarum suntik tajam, asepsis saat melakukan suntikan, hindari injeksi berulang-ulang, volume anestesi minimal.

Penanganan: terapi panas (kompres daerah trismus 15-20 menit) setiap jam. Analgetik obat relaksasi otot, fisioterapi (buka mulut 5- 10 menit tiap 3 jam), megunyah permen karet, bila ada infeksi beri antibiotik alat yang digunakan untuk membuka mulut saat trismus.

 

Hematoma (efusi darah kedalam ruang vaskuler).

Sesbab: robeknya pembuluh darah vena/ arteri akibat penyuntikan, tertusuknya arteri/ vena, dan efusi darah.

Pencegahan: anatomi dan cara injeksi harus diketahui sesuai dengan indikasi, jumlah penetrasi jarum seminimal mungkin.

Penanganan: penekanan pada pembuluh darah yang terkena, analgetik bila nyeri, aplikasi pada pada hari berikutnya.

Infeksi.

Sebab: jarum dan daerah operasi tidak steril, infeksi mukosa masuk kedalam jaringa, teknik pemakaian alat yang salah

Pencegahan: jarum steril, aseptic, hindari indikasi berulang-ulang.

Penanganan: terapi panas, analgesic, antibiotic.

Udema (Pembengkakan Jaringan)

Sebab: trauma selama injekasi, infeksi, alergi, pendarahan, irirtasi larutan analgesic.

Pencegahan: pemakaian alat anestesi lokal yang betul, injeksi atraumatik, teliti pasien sebelum pemberian larutan analgesic.

Penanganan: mengurangi pembengkakan secepat mungkin, bila udema berhubungan dengan pernafasan maka dirawat dengan epinefrin 8,3 mg IV/Im, antihistramin IV/im. Kortikosteroid IV/ IM, supinasi, berikan basic life support, tracheastomi, bila sumbat nafas, evaluasi pasien.

Bibir Tergigit.

Sebab: [emakaian long acting anestesi lokal.

Masalah: bengkak dan sakit.

Pencegahan: pilih anastetik durasi pendek, jangan makan/minum yang panas, jangan mengigit bibir.

Peanganan: analgesi, antibiotic, kumur air hangat beri vaselinàlipstik.

Paralyse N. Facialis (N. Facialis ter anestesi)

Sebab: masuknya larutan anestesi ke daam kapsul/ substransi grandula parotid.

Masalah: kehilangan fungsi motoris otot ekspersi wajah. Mata tidak bisa mengedip.

Pencegahan: blok yang benar untuk n. Alveaolaris inferior, jarum jangan menyimpang lebih kepost  Waktu blok n. alveolaris inferior.

Penanganan: beritahu pasien, bahan ini bersifat sementara, anjurkan secara periodic membuka dan menutup mata.

Lesi Intra Oral Pasca Anestesi.

Penyebab: stomatitis apthosa rekuren, herpes simpleks.

Masalah: pasein mengeluh sensitivitas akut pada daerah uslerasi.

Penanganan: simptomatik, kumur-kumur dengan larutan dipenhidramin dan susu magnesium.

Sloughing pada Jairngan.

Penyebab: epitel desquamasi, abses steril.

Masalah: sakit hebat.

Pencegahan: pakai topical anestesi, bila memakai vasokonstriktor jangan berlebihan.

Penanganan: secara simptomatik, rasa sakit diobati dengan analgesic (aspirin/ kodein secara topical)

Syncope (fainting).

Merupakan bentuk shock neurogenik.

Penyebab: isohemia cereoral sekunder, penurunan volume darah ke otak, trauma psikologi.

Masalah: kehilangan kesadara.

Pencegahan: fentilasi yang cukup, posisi kepala lebih rendah dari tubuh, hentikan bila terjadi perubahan wajah pasien.

Penanganan: posisikan kepala lebih rendah dari tubuh, kaki sedikit diangkat, bila sadar anjurkan tarik nafas dalam-dalam, rangsang pernaasan dengan wangi-wangian.

yaps layaknya seorang manusia yang tidak luput dari dosa…hmm jadi mohon tambahan jika ada yang kurang.

Blok N. Mentasli & Bucalis

Posted in Oral Surgery on Maret 3, 2008 by Kirain

Wajah dapat dibagi menjadi beberapa regio:

1.      Regio mandibula berhubungan dengan corpus dan ramus mandibulae dan mencakup labium oris inferius dan bagian bawah pipi

2.      Regio auriculotemporale di atas arcus zygomaticus dan dibelakang margo lateralis

3.      Regio bagian bawah tengah wajah, termasuk daerah antara labium oris inferius dan margo infraorbitalis, bagian atas pipi, regio alaris hidung dan tulag pipi

4.      Regio orbitocranialis; termasuk orbita, dorsum nasi dan dahi

Persarafan kulit regio mandibula dan aurilotemporale berasal dari N. mandibularis cabang N. trigeminus (N. mentalis, buccalis, aurilotemporalis). Suplai darahnya berasal dari a. facialis, mentalis, buccalis, transversa facialis dan ramu temporales superficiales.

Sejumlah arteri kecil kelihatan pada wajah disertai dengan cabang terminal trigeminus. Arteri ini beranastomosisi dengan cabang a. facialis dan a. transversa facialis pada jaringan yang menututpi rangka wajah yaitu:1

1.      A. lacrimalis, superorbitalis, supratrochlearis, dan infratrochlearis di sekitar tepi orbita. Arteri-arteri ini adalah cabang dari a. opthalmica

2.      A. infraorbitalis, cabang a. maxillaris

3.      A. buccalis dan mentalis, cabang a. maxillaris dan a. alveolaris inferior.

Beberapa injeksi blok dari batang saraf dapat digunakan untuk kasus bedah mulut. Sejauh ini yang paling sering digunakan adalah blok untuk gigi rahang bawah, termasuk juga blok mentalis, blok untuk gigi posterior rahang atas dan blok infraorbitalis. Palatum yang keras dapat dianestesi dengan blok palatina mayor dan nasoppalatina dengan perluasan daerah palatinal yang dikehendaki untuk dianestesi.

 
ANESTESI BLOK N.MENTALIS

Nervus mentalis merupakan cabang dari N.Alveolaris Inferior yang berupa cabang sensoris yang berjalan keluar  melalui foramen mentale untuk menginervasi kulit dagu, kulit dan membrana mukosa labium oris inferior.

 Lokasi Nervus Mentalis

 N.Mentalis menginervasi jaringan halus di sekitar foramen bagian anterior, yang biasanya terdapat di antara gigi premolar rahang bawah. Teknik ini bermanfaat untuk kuret atau biopsi.

Blok nervus mentalis diindikasikan untuk jaringan lunak pada bagian anterior  sampai pada foramen mentale. Kontra indikasi dari teknik injeksi ini adalah adanya inflamasi akut dan infeksi di sekitar derah yang akan diinjeksi. Pada injeksi ini, digunakan jarum yang pendek yang ukurannnya 25 atau 27 gauge.

Pada injeksi ini, anestesi dideponis dalam canalis mandibularis melalui foramen mentale.blok sebagian pada mandibula bisa diperoleh dengan cara ini. Injeksi ini dipakai bila blok lengkap tidak diperlukan atau bila karena alasan tertentu merupakan kontraindikasi.

Teknik Anestesi Blok N.Mentalis

Tentukan letak apeks gigi-gigi premolar bawah. Foramen biasanya terletak di dekat salah satu apeks akar gigi premolar tersebut.

Ketika blok nervus maxilaris atau alveolaris inferior sukses, maka tidak perlu dilakukan injeksi. Jarum pendek yang berukuran 25 gauge dimasukkan (setelah jaringan yang akan dipreparasi diberikan antiseptik) dalam mucobuccal fold di dekat foramen mentale dengan bevel di arahkan ke tulang. Foramen dapat diraba atau dapat terlihat dengan menggunakan sinar x dan biasanya berada di antara gigi premolar. Pasien mungkin saja merasakan sakit ketika nervus telah teraba pada foramen.5  Lakukan penembusan jaringan dengan kedalaman 5 mm, lakukan aspirasi dan injeksikan anestetikum sebanyak 0,6 cc. Teknik ini menyebabkan efek anestesi  pada jaringan buccal bagian anterior di depan foramen, bibir bagian bawah, dan dagu.

Tariklah pipi ke arah bukal dari gigi premolar. Masukkan jarum ke dalam membrana mukosa di antara kedua gigi premolar kurang lebih 10 mm eksternal dari permukaan bukal mandibula. Posisi syringe membentuk sudut 45­­­0 terhadap permukaan bukal mandibula, mengarah ke apeks akar premolar kedua. Tusukkan jarum tersebut sampai menyentuh tulang. Kurang lebih ½ cc anestetikum dideponir, ditunggu sebentar kemudian ujung jarum digerakkan tanpa menarik jarum keluar, sampai terasa masuk ke dalam foramen, dan deponirkan kembali ½ cc anestetikum dengan hati-hati.

Selama pencarian foramen dengan jarum, jagalah agar jarum tetap membentuk sudut 45o terhadap permukaan bukal mandibula untuk menghindari melesetnya jarum ke balik periosteum dan untuk memperbesar kemungkinan masuknya jarum ke foramen.

Injeksi ini dapat menganestesi gigi premolar dan kaninus untuk prosedur operatif. Untuk menganestesi gigi insisivus, serabut saraf yang bersitumpang dari sisi yang lain juga harus di blok. Untuk ekstraksi harus dilakukan injeksi lingual.

Teknik Anestesi Blok N.Mentalis.

 INJEKSI N.BUCCALIS

Blok nervus buccal, dikenal juga dengan sebutan long buccal atau blok buccinator,blok nervus buccal merupakan injeksi tambahan dari injeksi blok nervus alveolaris inferior ketika menganestesi jaringan pada bagian buccal gigi molar rahang bawah. Tujuan dari blok nervus buccal ini adalah nervus buccalis yang terdapat pada bagian anterior dari ramus. Kontra indikasi dari injeksi nervus buccal adalah jika terjadi inflamasi akut dan infeksi di sekitar bagian yang akan diinjeksi.

Daerah sulcus pada premolar dan molar rahang bawah diinervasi oleh nervus buccalis dan daerah ini harus diinjeksi secara terpisah.

N.Buccalis Longus keluar tepat di luar foramen ovale. Saraf berjalan di antara kedua caput m.pterygoideus externus, menyilang ramus untuk kemudian masuk ke pipi melalui m.buccinator, di sebelah bukal gigi molar ketiga atas. Cabang-cabang terminalnya menuju membrana mukosa bukal dan mukoperiosteum di sebelah lateral gigi-gigi molar atas dan bawah.

 

Lokasi Nervus Buccal

 

Karena jaringan lunak di sebelah bukal gigi molar bawah juga mendapat inervasi dari n.buccalis longus yang biasanya merupakan cabang dari n.mandibularis sesudah saraf tersebut meninggalkan foramen ovale, biasanya perlu dilakukan injeksi terpisah untuk menganestesi jaringan ini. Beberapa ahli anatomi berpendapat bahwa inervasi jaringan ini tidak selalu berasal dari n.buccalis longus. Juga ada perbedaan pendapat mengenai arah distribusi percabangan pada waktu saraf menuju daerah yang diinervasinya. Semua itu menyebabkan adanya variasi dalam teknik injeksi.

Anestesi buccal dapat lebih baik dengan menunggu blok pada rahang bawah menjadi lebih efektif. Lebih baik daripada single blok diberikan pada pipi sejajar dengan mahkota molar tiga pada batas anterior ramus mandibula, beberapa operator secara sederhana menginfiltrasi di sekitar bagian yang dibedah. Misalnya, pada regio sulkus molar tiga dimana impaksi molar tiga diobati, sejak pemberian anestesi, keseimbangan flap akan membaik.

 Teknik Injeksi N.Buccalis

Nervus buccal tidak dapat dianestesi dengan menggunakan teknik anaestesi blok nervus alveolaris inferior. Nervus buccal menginervasi jaringan dan buccal periosteum sampai ke molar, jadi jika jaringan halus tersebut diberikan perawatan, maka harus dilakukan injeksi nervus buccal. Injeksi tambahan tidak perlu dilakukan ketika melakukan pengobatan untuk satu gigi. Jarum panjang dengan ukuran 25 gauge digunakan (karena injeksi ini biasanya dilakukan bersamaan dengan injeksi blok nervus alveolaris inferior, jadi jarum yang sama dapat digunakan setelah anestetikum terisi). Jarum disuntikan pada membran mukosa bagian disto bucal sampai pada molar terakhir dengan bevel menghadap ke arah tulang setelah jaringan telah diolesi dengan antiseptik. Jika jaringan tertarik kencang, pasien lebih merasa nyaman. Masukkan jarum 2 atau 4 mm secara perlahan-lahan dan lakukan aspirasi.4 Setelah melakukan aspirasi dan hasilnya negatif, maka depositkan anestetikum sebanyak 2 cc secara perlahan-lahan.

Masukkan jarum pada lipatan mukosa pada suatu titik tepat di depan gigi molar pertama. Perlahan-lahan tusukkan jarum sejajar dengan corpus mandibulae, dengan bevel mengarah ke bawah, ke suatu titik sejauh molar ketiga, anestetikum dideponir perlahan-lahan seperti pada waktu memasukkan jarum melalui jaringan.

Pasien harus berada dalam posisi semisupine. Operator yang menggunakan tangan kanan berada dalam posisi searah dengan jarum jam delapan sedangkan operator yang kidal berada pada posisi searah dengan jarum jam empat.

Injeksi ini menganestesi jaringan bukal pada area molar bawah. Bersama dengan injeksi lingual, jika diindikasikan, dapat melengkapi blok n.alveolaris inferior untuk ekstraksi semua gigi pada sisi yang diinjeksi. In jeksi ini tidak selalu diindikasikan dalam pembuatan preparasi kavitas kecuali jika kavitas bukal dibuat sampai di bawah tepi gingival.

 KEGAGALAN ANESTESIA

Banyak kasus kegagalan dalam mendapatkan anestesia yang memadai dengan injeksi anestetikum lokal. Beberapa mengkin gagal sama sekali, sedangkan lainnya hanya pada injeksi atau daerah mulut tertentu saja. Memang ada variasi individual dalam menerima efek obat-obatan tertentu. Pada pasien yang peka terhadap anestetikum lokal, sejumlah kecil anestetikum saja sudah dapat berdifusi dengan mudah dan memberikan efek anestesia yang kuat pada daerah yang luas, sedangkan pada pasien yang kurang peka diperlukan larutan yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama.

Rasa takut bisa menyebabkan pasien menjadi gelisah meski sebenarnya ia tidak merasa takut. Anomali inervasi nervus atau variasi bentuk dan kepadatan tulang juga dapat menghambat usaha operator untuk mendapat efek anestesi yang layak. Kurangnya pengetahuan mengenai anatomi bisa mengakibatkan teknik anetesi yang digunakan kurang baik sehingga akhirnya menimbulkan kegagalan.

Kecerobohan, rasa percaya diri yang berlebihan, keacuhan atau operasi yang dilakukan sebelum efek anestesi maksimal, merupakan penyebab kegagalan pada beberap kasus. Operasi yang dilakukan sebelum efek anestesi yang memuaskan diperoleh, akan memberikan hasil akhir yang meragukan. Jaringan-jaringan yang mengalami peradangan dan infeksi kronis tidak mudah dianestesi.3

Pada injeksi n.mentalis, kegagalan akan timbul apabila jarum tidak masuk ke dalam foramen mentale atau jika n.lingualis atau nn.cervicales superficiales tidak teranestesi.

Jika ada feed back (cie bahasanya), mohon dituliskan, hmm jika ada yang mau nambahin atau koreksi… hmm juga bisa, klo nanya nanti dulu, mari kita bahas bersama…

 

Anesthetik lokal Golongan Amida!!

Posted in Oral Surgery on Februari 28, 2008 by Kirain

ANESTETIK LOKAL: GOLONGAN AMID 

Secara umum anestetik local mempunyai rumus dasar yang terdiri dari 3 bagian: gugus amin hidrofil yang berhubungan dengan gugus residu aromatic lipofil melalui suatu gugus antara. Gugus amin selalu berupa amin tersier atau amin sekunder. Gugus antara dan gugus aromatic dihubungkan dengan ikatan amid atau ikatan ester. Maka secara kimia anestetik local digolongkan atas senyawa ester dan senyawa amid. 

Yang tergolong kedalam golongan amida (-NHCO-): Lidokain (xylocaine, lignocaine), mepivakain (carbocaine), prilokain (citanest), bupivacain (marcaine), etidokain (duranest), dibukain (neupercaine), ropivakain (naropin), levobupivacaine (chirocaine).

Baca lebih lanjut

Skripsi–>Penelitian…Apaan Sih!

Posted in Penelitian on Februari 28, 2008 by Kirain

yo neh tips dari dosen setelah beberapa waktu bertapa…yah semoga berguna bagi teman2 yang lagi ingin menulis skripsi….dan yah mungkin ilmu gw ndak seberapa dan semoga ada manfaatnya!

pertama tama mari kita tinjau dari segi apa itu masalah atau permasalahan itu sendiri…

permasalahan itu adalah sesuatu yang perlu dicari! (inget di cari jangan diliatin aj atuh mas…), dan merupakan tahapan dari perjalanan suatu penelitian. permasalahn membutuhkan jawaban yang dimana nanti akan menjadi dasar suatu tesis dan menjadi studi pendahuluan..

masalah sendiri adalah kesenjangan atara apa yang seharusnya dengan apa yang ada dalam kesenjangan itu (atau kata lain kenyataan kalee..)/ apa yang diharapkan dan apa yang tersedia…

Baca lebih lanjut

Salam KEnal Dari Gw

Posted in Uncategorized with tags on Februari 27, 2008 by Kirain

yawn…Dent Note!? apaan tuh? saudaranya death note kali ya!…hehe canda, trus namanya ces…Kirain? masih sepupu sama Kira Light!?…ah ndak kok…

Death note bisa buat orang pada mate klo ditulisin namanya di situ, sedangkan dent note adalah catetan gw selama berada di jalur untuk menjadi The Dentist (saingannya The Doctor) pokoknya ap aja kegiatan yg gw rasa berguna atau….lumayan….atau sedikit beguna bagi saya…mungkin gw akan tulis di sini…

yah mulai dari….soal…respon….soal ujian…teknik nyontek eh jangan-jangan Haram

hmm..pokoknya macemdah dari kuliah ampe ngegaming…